Membersihkan Ladang Pasca Pembakaran, Untuk Apa?

1756171390064.jpeg

oleh: Noriati Leting 

Suku Dayak Kenyah disetiap membuka lahan untuk ditanami padi ladang dengan membakar yang kerap disebut dengan mekup. istilah tersebut menggambarkan proses pemersihan lahan setelah pemakaran ladang. Pembakaran merupakan bagian dari tradisi berladang berpindah yang masih dilakukan sejak dahulu hingga sekarang. Setelah pembakran, mekup menjadi tahapan penting untuk menyiapkan lahan agar siap ditanami padi (tugal).

Mekup bukan hanya sekadar membersikan sisa-sisa pembakaran, melainkan juga proses gotong royong  dan pelestarian lingkungan. Secara harfiah, mekup berarti mengumpulkan dan memebersikan sisa-sisa kayu, ranting, dan abu yang tidak habis terbakar. Proses ini dilakukan secara manual dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti, parang, beluing, dan alat pengumpulan lainnya.

Proses mekup itu sendiri juga melibatakan serangkaian kegitan yang membutuhkan tenaga kerja dan biaya. Menurut informasi dari masyarakat setempat, upah per-hari sekitar Rp130.000 dengan biaya makan ditanggung oleh pemilik lahan. Sebagai gambaran biaya mekup  untuk lahan seluas 1 ha dengan jumlah pekerja sebanyak 5 orang dan waktu pengerjaan selama 4 hari, maka upah harian berjumlah senilai Rp 2.600.000. Biaya ini belum termasuk biaya konsumsi  pekerja selama proses mekup berlangsung. Ditemui pada 19 Agustus 2025 di lahannya yang sedang dilaksanakan mekup dengan pekerja berasal dari kelompok pemuda yang hendak mengumpulkan dana kegiatan Natal diakhir tahun nanti, Nomenser Ibau mengatakan jumlah pekerja sebanyak 19 orang dalam sehari kerja meraup nilai sebesar Rp2.470.000,-. Nilai yang tidak sedikit ini disesuaikan dengan kemampuan pemilik ladang dalam mengerjakan lahannya masing-masing. 

Mekup menjadi bagian penting dari siklus pertanian tradisional masyarakat Dayak Kenyah yang mengandung nilai budaya dan kearifan lokal yang masih diterapkan hingga kini. Dengan demikian, kita dapat menghargai praktik pertanian tradisional dan mencari solusi yang berkelanjutan untuk ketahanan pangan misalnya, padi sawah. Dengan nominal biaya total keseluruhan kegiatan penanaman padi ladang yang berkisar hingga Rp10.000.000,-  setiap tahunnya, masyarakat berharap agar penanaman dengan bersawah yang membutuhkan nilai tidak lebih banyak dapat diterapkan. 

Bagikan post ini: